Joko Santoso, Orang Pertama Yang Berhasil Melakukan Komunikasi Saat Bencana di Palu

Publik tidak mengenal siapa Joko Santoso. Namanya tidak familiar. Tidak tenar. Namun apabila kita menelisik pengalamannya, ia adalah salah satu orang yang patut diapresiasi. Sebab Joko Santoso adalah orang pertama yang berhasil melakukan komunikasi saat bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu.

Saat bencana menghantam Palu dan sekitarnya, jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut terputus total atau black out. Bahkan banyak keluarga yang tidak tahu kondisi anggota keluarganya yang lain. 

“Saat itu saya dan istri berencana melihat sebuah perayaan di Kota Palu yang diselenggarakan di pantai. 300 meter sebelum lokasi terdengar suara adzan sehingga saya dan istri memutuskan untuk mencari masjid terdekat. Baru 100 meter jalan, gempa dengan kekuatan 7,4 skala richter terjadi. Posisi saya saat itu masih di motor. Saking kuatnya guncangan, saya dan istri sampai terjatuh. Lalu terjadi gempa susulan, tak lama terdengar suara gemuruh dari arah pantai. Akhirnya saya memutuskan untuk segera pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 3 km,” ujar Joko saat menceritakan kisahnya dalam acara Bimtek Komunikasi Melalui Satelit LAPAN- A2/ LAPAN-ORARI (IO-86) dengan Radio Genggam yang digelar di Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) Jalan Cagak Satelit No 8 KM 0,4 Rancabungur, Bogor, Sabtu 28 September 2019.

Disampaikan Joko, karena komunikasi dan listrik mati total akhirnya dia memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan membawa radio genggam atau HT dan antena mokson. Menurutnya HT dan antena menjadi barang yang berharga saat itu karena satu-satunya cara berkomunikasi adalah melalui komunikasi satelit.

“Saya yakin teman-teman di AMSAT (Amateur Radio Satellite Indonesia) sudah menunggu kabar karena berita bencana di Palu sudah disiarkan oleh media. Sebelumnya saya mendownload jadwal voice repeater LAPAN-A2 yang dishare di twitter Lapansat. Jadi tepat pukul satu siang waktu Palu saya melakukan kontak perdana melalui satelit LAPAN-A2 dan langsung direspon oleh rekan AMSAT yang lain,” terangnya.

Selama jaringan telekomunikasi terputus, lanjutnya, komunikasi yang bisa diandalkan hanya melalui satelit. Selama satu minggu, Joko mengabarkan kondisi terakhir di Palu melalui voice repeater.
“Berdasarkan pengalama saya, satelit LAPAN-A2 menjadi salah satu komunikasi alternatif saat terjadi bencana. Harapan ke depan Pusteksat LAPAN bisa membuat satelit lain untuk mitigasi bencana,” pungkas Joko.

source: pusteksat.lapan.go.id