Radio Amatir (ORARI) Partisipasi di Mudik Lebaran 2019

Posko mudik ORARI. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Radio Amatir Terjun di Lebaran 2019

Jakarta: Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) turut berkontribusi dalam Lebaran 2019. Mereka mendukung pemerintah dalam mengkomunikasikan semua hal terkait Lebaran.

Di tengah ketatnya persaingan stasiun radio, ORARI tetap eksis sejak diresmikan pada 1968. Sebagai organisasi, ORARI memiliki kelebihan tersendiri dibanding stasiun radio pada umumnya.

“Kami memiliki lebih banyak frekuensi dan melakukan dukungan komunikasi. Anggota kami ada di 34 provinsi di Indonesia,” kata Kepala Bagian Teknik, Emir Yudha Amangku saat berbincang dengan Medcom.id di Posko ORARI, Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Rabu 29 Mei 2019.

Kelebihan itu dimanfaatkan ORARI untuk menyampaikan informasi terkait kecelakaan, arus lalu lintas, dan semua hal yang berhubungan dengan Lebaran dari seluruh Indonesia. Emir menyebut bahkan kecelakaan di ‘gang tikus’ pun tetap diinformasikan.

Hal ini, kata dia, untuk membedakan ORARI dengan radio pada umumnya. Ketika ada kejadian di suatu daerah, anggota ORARI yang paling dekat dengan lokasi langsung meluncur ke sana. “Tentu kita tidak boleh menginformasikan hoaks, SARA, dan provokasi,” ujar Emir.

ORARI, kata dia, diawasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kegiatan Amatir Radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk.

Mereka juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah untuk menginformasikan hal terkini mengenai Lebaran. Hal ini, jelas Emir, juga sesuai dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) ORARI yaitu melaksanakan dukungan komunikasi radio dan penyampaian berita sebagai komunikasi cadangan nasional.

Dalam menyampaikan informasi terkait bencana, lanjut dia, ORARI tergabung dalam Communication on Rescue (Core). Mereka juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Kendati begitu, radio yang bisa didengar di frekuensi 144-147 megahertz tersebut tidak melulu membahas bencana. Sehari-hari, kata Emir, isi siaran ORARI adalah mengobrol dengan anggota ORARI lainnya soal cuaca, kondisi di wilayahnya, dan lain-lain.

“Semua real time. Semacam WhatsApp Group, bedanya ini menggunakan suara,” pungkas dia.

Ke depannya, ORARI berencana membangun radio pemancar ulang (RPU). Hal ini berfungsi memperluas jangkauan ORARI ke seluruh Indonesia.

source:https://www.medcom.id/ramadan/news-ramadan/5b2AvzeN-radio-amatir-terjun-di-lebaran-2019