Home | Berita | Ada apa dengan ‘Perselingkuhan Frekuensi”?
Author : Font Size :   Normal   |   2X   |   4X   |   8X   |   10X
Ada apa dengan ‘Perselingkuhan Frekuensi”?

Satu waktu saat pilot melakukan kontak ke Air Traffic Controller atau menara pengawas lalu lintas penerbangan di darat tiba-tiba mendapatkan gangguan komunikasi di radionya. Gangguan ini potensinya berbahaya karena bisa menyangkut keselamat jiwa orang banyak. Pihak bandara pun melaporkan kejadian tersebut ke Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio atau Balmon di Makassar. Gayung bersambut, saat Balmon turun melacak ternyata gangguan tersebut sumbernya didapatkan dari komunikasi amatir. Agak mencengangkan karena saat amatir bekerja pada band frekuensi amatir kok suaranya bisa nyangkut ‘berselingkuh’ di frekuensi air band penerbangan?

 

Maka masalah ini menjadi serius dan disikapi cepat oleh ORARI Daerah Sulawesi Selatan karena bukti yang didapatkan Balmon erat kaitannya dengan frekuensi amatir yang digunakan memancar oleh amatir yang jaraknya tidak begitu jauh dari bandara. Saat diskusi kecil dengan OM Ali Rahman YB8FJ yang juga sekretaris ORARI Daerah SulSel dan beberapa pengurus muncullah istilah ‘Perselingkuhan Frekuensi’ yang ternyata didapat dari orang Balmon juga. Ceritanya begini, saat beberapa rekan amatir bekerja dalam satu frekuensi di 2 meter band dan mengudara secara bersamaan maka terjadilah signal yang bertumpuk. Akibatnya timbul spourius emission jenis intermodulasi atau signal lain berupa pancaran palsu yang tidak sengaja dibuat. Ternyata dari sini lahir istilah sebagai ‘perselingkuhan frekuensi’. Nah, signal inilah yang nyasar ke frekuensi air band tempat komunikasi penerbangan yang berakibat terganggunya komunikasi radio dua arah antara pilot dan petugas menara di bandara.

 

 

Memang gangguan ini memungkinkan terjadi karena frekuensi amatir berdekatan dengan frekuensi komunikasi penerbangan yakni 144.000 MHz – 148.000 MHz untuk amatir dan 118 – 137 MHz untuk penerbangan atau frekuensi navigasi pada 108 – 118 MHz. Kemungkinan potensi gangguan lain yakni adanya pancaran radio yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Atau stasiunnya tidak memenuhi persyaratan teknis untuk memancar. Konsekuensi gangguan yang bisa terjadi adalah keselamat penerbangan bisa terancam. Pilot mendapat instruksi dari menara pengawas bandara atau ATC. Bila pilot terlambat menerima instruksi karena gangguan spurious emission tadi dalam waktu tiga puluh detik saja maka pesawat bisa melenceng dari jalur sejauh 10 hingga 15 kilometer.

 

Mengingat potensi ancaman ‘Perselingkuhan Frekuensi’ ini cukup serius kiranya peran Orari lokal menjadi signifikan untuk melakukan pembinaan secara terus-menerus kepada anggotanya utamanya agar mereka bekerja pada frekuensi sesuai peruntukannya dan mengingatkan agar stasiun mereka memenuni persyaratan teknis untuk memancar sehingga tidak menimbulkan signal lain selain signal utama yang dipancarkan. Selain itu, daya pancar juga perlu diperhatikan agar tidak melebihi ketentuan. Untuk memancar di VHF dua meter band atau pada pita frekuensi diatas 30 MHz, bagi tingkat siaga YD hanya diperkenankan memancar hingga 75 watt, penggalang YC hingga 200 watt, dan penegak YB hanya sampai 500 watt. Apalagi tahun depan beberapa kalangan memprediksi bahwa Balmon akan lebih gencar melakukan tindakan tegas penegakan aturan bagi penggunaan frekuensi radio yang menyalahi ketentuan.

Ditulis oleh YC8AO

 

source:facebook

https://www.facebook.com/groups/117437355501730/permalink/195328321045966/

Total Comments ( posted)
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia

Gedung Prasada Sasana Karya
Jl. Suryopranoto No. 8 - Jakarta 10130
Telp. : +62 21 6326788
Fax. : +62 21 6326785
Email : hq@orari.or.id
Facebook   Twitter   Google Plus   Pinterest   Youtube  
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Copyright © 2016 ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Seluruh materi dan konten dilindungi oleh hukum atas hak cipta
Organisasi Amatir Radio Indonesia Pusat
ORARI is a member of International Amateur Radio Union Region 3
Orari Pusat RSS   |   Member Update RSS   |   RSS   |   Atom
To Top