Home | Berita | Mewaspadai Pergerakan Gempa di Selatan Jawa
Author : Font Size :   Normal   |   2X   |   4X   |   8X   |   10X
Foto ilustrasi Seismogram : Mewaspadai Pergerakan Gempa di Selatan Jawa Foto ilustrasi Seismogram : Mewaspadai Pergerakan Gempa di Selatan Jawa

Gempa beruntun terjadi di Samudera Hindia di selatan Jawa dua hari terakhir. Setelah Senin (7/1/2019) malam terjadi gempa berkekuatan M 4,8 dan M 4,5 , Selasa (8/1), gempa beruntun kembali terjadi dua kali berkekuatan M 5 dan M 4,4.

Gempa-gempa itu kecil, tetapi selatan Jawa menyimpan energi gempa raksasa. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono menyebut, epìsenter gempa pertama pada Selasa pukul 16.54 terletak di bawah laut jarak 93 kilometer arah selatan Kota Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, JawaBarat. Hiposenter gempa berada di kedalaman 50 km.

 

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa dangkal itu akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Lokasi itu termasuk zona megathrust bawah.

 

Dari mekanismenya, gempa itu dibangkitkan deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar naik (thrust fault). Gempa-gempa sesar naik berkekuatan di atas M 7 dan memîcu tsunami. Karena gempa kali ini kecil, menurut pemodelan BMKG, tak memicu tsunami. Berikutnya, pukul 18.05, gempa M 4,4 terjadi di 289 km barat daya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kedalaman hiposenter gempanya sekitar 10 kilometer.

 

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa di selatan Jawa, Senin pukul 22.04, berkekuatan M 4,8. Pusat gempanya berlokasi di laut di jarak 62 km barat daya Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada kedalaman 21 km. Berikutnya, Senin pukul 23.58, kembali terjadi gempa tektonik di selatan Jawa. Kekuatan gempa M 4,5 dengan pusat di laut pada jarak 69 km tenggara Cilacap Jawa Tengah, kedalaman 11 km. Kawasan ini berada di zona tektonik aktif. Gempa-gempa ini relatif keciI, kata Daryono.

 

Peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko mengatakan, gempa-gempa itu perlu jadi perhatian demi meningkatkan kewaspadaan. Sebab, area selatan Jawa dikhawatirkan menyimpan potensi gempa besar yang bisa memicu tsunami. Apalagi, beberapa segmen gempa di selatan Jawa adalah daerah seismic gap atau zona sepi gempa besar.

 

Zona seismic gap yang bisa dimaknai sebagai menyimpan energi itu berada di segmen Pangandaran (Jawa Barat) hingga Pacitan dan Banyuwangi (Jawa Timur). Gempa M 7,8 diikuti tsunami pernah terjadi di Pangandaran pada 2006 dan di Pacitan-Banyuwangi gempa M 7,8 pada 1994.

 

Di antara dua lokasi ini, tak ada gempa besar di zona subduksi. Daerah sepi gempa juga terjadi di barat Pangandaran hingga Selat Sunda dan Banyuwangi sampai selatan Bali. Padahal, Lempeng Indo-Australia mendorong Lempeng Eurasia di selatan Jawa dengan kecepatan 6,6 sentimeter per tahun. Dengan menghitung pergerakan itu, dalam 100 tahun,regangan batuan yang terkunci 6.6 meter.

 

Gempa bumi terjadi jika batuan saling mengunci terlepas seperti pegas. Ratusan tahun tanpa gempa besar, artinya akumulasi energi yang tersimpan amat besar. Kajian peneliti Institut Teknologi Bandung, Rahma Hanifa, untuk disertasinya di Universitas Nagoya menemukan,potensi megathrust (subduksi besar) di Jawa Barat positif menunjukkan akumulasi energi bisa lepas sewaktu-waktu.

 

“Secara teori, bidang patahan mulai lepas dan pinggirnya dulu. Ilustrasinya seperti kain kanebo basah ditarik di atas kaca. Dengan kondisi awal kain menempel di kaca, sisi-sisinya lepas duluan lalu akan bergerak keseluruhan,” ujarnya. Zona kuncian gempa di selatan Jawa bisa runtuh persegmen, seperti gempa Pangandaran pada 2006 dan gempa Banyuwangi 1994. Namun, zona ini bisa runtuh bersamaan seperti gempa Aceh 2004 dan gempa Jepang 2011. Hal itu disebut gempa megathrust dan kekuatan bisa diatas M 9. 

 

Selain energi besar tersimpan, karakteristik lain yang perlu dipahami di selatan Jawa ialah potensi tsunami earthquake, seperti pada tsunami Pangandaran 2006. Istilah tsunami earthquake dimunculkan pertama kali oleh ahli seismologi dañ Earthquake Research Institute (ERI),Tokyo University, Hiroo Kanamori, empat dekade lalu. Istilah itu bertujuan membedakan dengan tsunami lain yang biasa terjadi. 

 

Pada tsunami kategori ini gelombangnya di pantai beberapa kali lebih tinggi dibanding tsunami dan sumber gempa dengan magnitudo relatif sama. Karakter gempa yang lambat goyangannya bisa menyebabkan warga salah persepsi, mengira tak akan diikuti tsunami. Karena karakter gempa pelan dan lama, beberapa ahli lain kerap memakai istilah slow-earthquake. Hal itu umumnya terjadi karena ada formasi gunung bawah laut terbenam di zona subduksinya. Itu juga terlihat di selatan Jawa.

 

Kajian Widjo Kongko menunjukkan, gelombang yang diakibatkan tsunami earthquake bisa 2-4 kali tingginya dibandingkan dengan gempa biasa. Contohnya, dalam kasus tsunami Pangandaran pada 2006 dipicu gempa M 7,7 berdasarkan model bagi gempa biasa, tinggi tsunami 2-4 meter. Namun, yang terjadi saat itu tingginya 8 meter. Bahkan ada yang 21 meter di Nusakambangan. Khusus untuk Nusakambangan, tinggi gelombang tsunami juga disebabkan topografi yang mengerucut (tappered).

 

Hingga kini, gempa belum bisa diprediksi kapan terjadi. Jadi, jika ada yang memprediksi gempa besar akan terjadi dengan hari dan jam tertentu, dipastikan sebagai hoaks. Namun, berbagai kajian, termasuk kajian paleotsunami, yang dilakukan peneliti Pusat Geoteknologi Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia, Eko Yulianto dan Puma S Putra, membuktikan ada jejak keberulangan tsunami di pesisir selatan Jawa, menandai gempa-gempa besar pernah terjadi di masa lalu.

 

Termutakhir, Eko dan Purna menemukan tujuh lapis endapan tsunami tua di rawa-rawa gambut di Ujung genteng, Sukabumi. Sebelumnya, mereka menemukan endapan tsunami di Lebak, Banten,hingga Pacitan, Jawa Timur,dengan kesamaan umur400 tahun lalu atau diduga pernah terjadi tsunami besar yang melanda pesisir selatan Banten sampai Pacitan. Kita tak harus panik, tetapi tak boleh mengabaikan resiko bencana di selatan Jawa.

(AHMAD ARIF)

 

sumber :

https://kompas.id/baca/utama/2019/01/09/mewaspadai-pergerakan-gempa-di-selatan-jawa/

Total Comments ( posted)
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia

Gedung Prasada Sasana Karya
Jl. Suryopranoto No. 8 - Jakarta 10130
Telp. : +62 21 6326788
Fax. : +62 21 6326785
Email : hq@orari.or.id
Facebook   Twitter   Google Plus   Pinterest   Youtube  
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Copyright © 2016 ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Seluruh materi dan konten dilindungi oleh hukum atas hak cipta
Organisasi Amatir Radio Indonesia Pusat
ORARI is a member of International Amateur Radio Union Region 3
Orari Pusat RSS   |   Member Update RSS   |   RSS   |   Atom
To Top