Era Indonesia Merdeka - Dua Dekade Pertama

Walaupun tidak dapat disangkal adanya keterlibatan pribadi-pribadi amatir radio pada berjenis kegiatan yang berkaitan dengan radio sampai pada dua dekade pertama eksistensi Republik Indonesia, keterlibatan mereka sebenarnya lebih sebagai pribadi dari pada sebagai seorang yang secara "resmi" terdaftar sebagai amatir radio.

Kebanyakan mereka ini adalah sisa-sisa dari era NIVIRA di zaman Hindia Belanda, yang sebagai perkumpulan radio amatir sudah benar-benar QRT sejak masuknya Jepang.

Di samping kesulitan mendapat komponen atau spareparts, trauma yang terbawa dari era pendudukan Jepang dimana kegiatan yang berkaitan dengan radio benar-benar dilarang dan diancam dengan hukuman yang berat (termasuk hukuman mati) membuat niatan untuk membuat pemancar di era itu praktis sirna sama sekali.

Hal ini berlanjut sampai dasawarsa 60an, yang terkait dengan alasan pendekatan keamanan (security approach) sehubungan dengan keadaan negara yang dinyatakan dalam keadaan perang (SOB/Staat van Orloog en Beleg) dalam kaitannya dengan operasi Trikora (pembebasan Irian Barat) dan Dwikora (Ganyang Malaysia).

Hal-hal yang bertalian dengan radio (bahkan radio penerima biasa, apalagi pemancar) berada di bawah pengawasan ketat (yang ditandai dengan sering diadakannya sweeping) untuk mencegah kemungkinan ditangkapnya berita-berita dari siaran luar negeri yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah.

Kegiatan para hobiist radio di zaman itu terbatas (karena dilakukan diam-diam) pada kegiatan SWL (short wave listening), yaitu mereka yang gemar mendengarkan pancaran (tepatnya siaran) broadcast dari stasiun-stasiun radio yang memang mengarahkan siarannya ke arah Indonesia (atau Pasifik), seperti ABC, BBC, VOA, Deutsche Welle, NHK, Radio Moskow, Radio Peking, All Indian Radio sampai Radio Vatican. Banyak di antara SWL-ers ini yang "bermodal" receiver yang cukup bagus, yang biasanya diukur dengan jumlah band yang ada (sebutan radio 2 band, 4 band sampai 6 band - sebutan yang secara tehnis berkaitan dengan sensitifitas, selektifitas dan cakupan penerimaan atau coverage)masing-masing radio).

Pada radio unggulan tersebut (jenis 4 sampai 6 band), di papan gelom-bangnya biasanya tercetak jelas (karena bandspreadnya lebar) Alokasi Fekwensi bagi masing-masing band (band plan), sehingga bisa diamati segmen frekwensi untuk Marine, Broadcast, Aviation, dan .... AMATEUR RADIO.

Sifat selalu ingin tahu dan dorongan untuk berburu stasiun baru yang menjadi sifat para SWLers biasanya membuat mereka ingin mengintip apa yang ada di luar Broadcast (BC) band. Inilah yang membuat mereka kemudian "berkenalan" dengan dunia radio amatir, apalagi alokasi band untuk keduanya selalu berdekatan (contoh: band amatir 80m bersebelahan dengan band BC 75m, band amatir 40m nyaris berimpitan dengan band BC 41m, band amatir 20m berdekatan dengan band BC 25m, dan seterusnya), sehingga dengan antena yang sama mereka bisa berpindah-pindah antara band BC dan Amatir (karena hanya menerima/RX, mereka tidak perk( peduli dengan SWR).

Bersamaan dengan kemajuan di bidang tehnoloji telekomunikasi (terutama dengan hadirnya teknoloji semiconductor), sejak tahun 60an banyak dijual receiver rumahan (bukan CR/communication receiver) jenis portable (bisa ditenteng-tenteng) yang cukup sensitif untuk menerima sinyal dari jauh (DX), yang memungkinkan para SWL-ers untuk secara tidak sengaja menerima (walaupun tidak bisa membaca) sinyal DX dengan mode CW dan SSB.

Bagi mereka yang kebetulan dibekali atau ada akses kepada mereka yang berwawasan tehnis, pelan-pelan tumbuh keinginan untuk meleng-kapi receivernya dengan BFO/Beat Frequency Oscilator, yang memung-kinkan mereka untuk membaca pancaran CW atau SSB tersebut.

Pendekatan paling sederhana adalah dengan mendekatan sebuah radio lain (radio ke-2) ke radio utama yang sudah tuned in pada sumber sinyal CW atau SSB tersebut.
Dengan memutar-memutar dial radio ke-2 sampai ketemu frekwensi yang zero beat dengan frekwensi sinyal CW/SSB tersebut (biasanya 455 KHz di bawah atau di atasnya) maka sinyal "asing" tersebut dapat mereka baca.

Bagi mereka yang memang berminat, temuan baru tersebut tentu sangat merangsang keingin tahuan mereka untuk tahu lebih lanjut tentang sisi lain dari hobi monitor tersebut, dan dengan demikian minat terhadap hobbi RADIO AMATIR kemudian tumbuh dan berkembang.

ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia

Gedung Prasada Sasana Karya
Jl. Suryopranoto No. 8 - Jakarta 10130
Telp. : +62 21 6326788
Fax. : +62 21 6326785
Email : hq@orari.or.id
Facebook   Twitter   Google Plus   Pinterest   Youtube  
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Copyright © 2016 ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Seluruh materi dan konten dilindungi oleh hukum atas hak cipta
Organisasi Amatir Radio Indonesia Pusat
ORARI is a member of International Amateur Radio Union Region 3
Orari Pusat RSS   |   Member Update RSS   |   RSS   |   Atom
To Top